Sunday, December 1, 2013
"Teori fondasi rumah tangga 1+1=1"
Bagus untuk yang sudah menikah atau akan merencakan pernikahan.
Mengapa ada banyak pernikahan yg gagal/tidak bahagia? Tentu penyebabnya ada banyak faktor, salah satunya ialah fondasi dari rumah tangga yang mereka dirikan rapuh.
Alasan yang paling umum orang menikah ialah karena telah cukup umur dan suka sama suka. Alasan lain karena faktor 'kecelakaan', bisnis, tekanan ekonomi, tradisi, kebutuhan biologis, desakan orang tua, dll.
Pernikahan bukanlah 1+1=2, melainkan 1+1=1.
1+1=1 adalah hal impossible, kecuali pasangan ini bersedia masing-masing mngurangi ½ egonya menjadi ½+½=1.
Setelah menikah, suami-istri harus menghilangkan separuh dari watak individual masing-masing, setiap pasangan harus memiliki persiapan mental untuk dapat melakukan kompromi, saling mengalah dan memaafkan. Dengan demikian, baru dapat membentuk sebuah mahliga rumah tangga yang sempurna.
Namun ada sekelompok golongan yang pernikahannya mengharuskan 1+0=1, maksudnya istri harus tunduk total pada suaminya tanpa menghiraukan seluruh hak-hak kaum wanita.
Sebaliknya ada laki-laki yang terpaksa tunduk pada istriya habis-habisan karena istri lebih mapan dalam hal pendidikan & ekonomi.
Tentu saja kelompok 1+0=1 merupakan pernikahan yang tidak sehat.
Pernikahan yang bahagia adalah penyatuan dua orang yang bersedia saling memaafkan dan menerima apa adanya.
Agar perkawinan anda tetap meluap dengan kasih, maka kalau anda salah, akuilah dan minta maaf. Dan jika anda benar, tetaplah diam dan memaafkan. Selalu mencintai dengan tulus dan sepenuh hati, itulah kunci untuk bahagia.
Rahasia menjadi pasangan suami istri yg bahagia sesungguhnya tidak pernah dapat diajarkan, tetapi harus terus belajar dan belajar. Yang paling menyenangkan dalam suatu pernikahan adalah bangun cinta lagi setiap hari kepada pasangan kita.
"Dinamika Kehidupan"
Bahwa
sepanjang hidup ini, manusia selalu mencari untuk mendapatkan. Sejak
kecil kita diajarkan untuk mencari ilmu untuk mendapatkan gelar
pendidikan. Kemudian dengan gelar tersebut, mencari pekerjaan untuk
mendapatkan uang. Mencari pasangan hidup, mendapatkan keturunan, mencari pangkat, nama, jabatan, kesenangan-kesenangan lainnya.
Tapi pernahkah kita sadari, bahwa saat kita meninggal, maka apapun yang tadinya kita CARI dan kita DAPATKAN, harus kita tinggalkan. Apa yang kita cari dan kita kejar sepanjang hidup kita, dengan susah payah, semuanya akhirnya harus ditinggalkan. Tidak satu pun yang dapat kita bawa. Tidak ada harta yang bisa dibawa , Juga tidak anak istri atau kerabat, tidak juga jabatan. Lalu bagaimana?
Apa yang bisa kita bawa dan menjadi bekal untuk kehidupan kita selanjutnya?
Jawabannya sangat mengejutkan . yang dapat kita bawa adalah "PEMBERIAN" Apapun yang kita berikan, yang kita danakan, yang kita relakan untuk kebahagiaan mahluk lain, itulah yang bisa kita bawa. Kebajikan itulah yang akan menjadi harta dan bekal kita dikehidupan kita selanjutnya dialam “sana”. Dana yang kita bagikan bagi orang miskin, baju yang kita sumbangkan bagi korban bencana alam, makanan yang kita bagi untuk mereka yang kelaparan, kesempatan yg kita berikan pada hidup orang lain dan sesuatu yang bisa kita berikan bagi makhluk lain, dsbnya.
Pemberian-pemberian inilah yang justru merupakan HARTA PUSAKA kita yang tidak bisa dicuri, tidak bisa hancur, tidak bisa hilang, dan bisa mengikuti kita sampai pada Akhirnya .
Marilah kita renungkan bersama. Apakah sudah cukup kita MEMBERI dari hasil yg kita cari , ataukah kita hanya selalu sibuk MENCARI , MENCARI DAN MENCARI SAJA .... ? Jika kita hanya bisa ”Mencari” tanpa bisa ”Memberi”, coba dipikirkan lagi apakah ada gunanya semua yang anda cari karena semua itu Harus ditinggalkan. Apa gunanya semua yang anda cari jika semua itu tidak dapat dibawa sebagai Bekal kita waktu mati? Sia-sia bukan?
Semoga kita semakin mengerti ARTI Memberi
Tapi pernahkah kita sadari, bahwa saat kita meninggal, maka apapun yang tadinya kita CARI dan kita DAPATKAN, harus kita tinggalkan. Apa yang kita cari dan kita kejar sepanjang hidup kita, dengan susah payah, semuanya akhirnya harus ditinggalkan. Tidak satu pun yang dapat kita bawa. Tidak ada harta yang bisa dibawa , Juga tidak anak istri atau kerabat, tidak juga jabatan. Lalu bagaimana?
Apa yang bisa kita bawa dan menjadi bekal untuk kehidupan kita selanjutnya?
Jawabannya sangat mengejutkan . yang dapat kita bawa adalah "PEMBERIAN" Apapun yang kita berikan, yang kita danakan, yang kita relakan untuk kebahagiaan mahluk lain, itulah yang bisa kita bawa. Kebajikan itulah yang akan menjadi harta dan bekal kita dikehidupan kita selanjutnya dialam “sana”. Dana yang kita bagikan bagi orang miskin, baju yang kita sumbangkan bagi korban bencana alam, makanan yang kita bagi untuk mereka yang kelaparan, kesempatan yg kita berikan pada hidup orang lain dan sesuatu yang bisa kita berikan bagi makhluk lain, dsbnya.
Pemberian-pemberian inilah yang justru merupakan HARTA PUSAKA kita yang tidak bisa dicuri, tidak bisa hancur, tidak bisa hilang, dan bisa mengikuti kita sampai pada Akhirnya .
Marilah kita renungkan bersama. Apakah sudah cukup kita MEMBERI dari hasil yg kita cari , ataukah kita hanya selalu sibuk MENCARI , MENCARI DAN MENCARI SAJA .... ? Jika kita hanya bisa ”Mencari” tanpa bisa ”Memberi”, coba dipikirkan lagi apakah ada gunanya semua yang anda cari karena semua itu Harus ditinggalkan. Apa gunanya semua yang anda cari jika semua itu tidak dapat dibawa sebagai Bekal kita waktu mati? Sia-sia bukan?
Semoga kita semakin mengerti ARTI Memberi
It's Depend On Us
Pernahkah
anda dimaki-maki oleh seseorang dengan menggunakan bahasa yang tidak
anda pahami ?? Anda tahu kalau sedang dimarahi, tetapi tidak merasa
sakit hati, (hanya bingungkan ?).
Kemudian,,,,, Anda bertanya kepada orang lain untuk menterjemahkan, tentang apa yang dikatakan orang yang sedang marah, Begitu tahu,,,,,, Saat itulah anda mulai sakit hati,,,
Sebenarnya,,,,, Anda punya 3 pilihan pada kondisi seperti itu : ~ Memilih untuk tidak peduli kepada si pemarah, sehingga tidak merasakan sakit hati. ~ Tetap berusaha mencari tahu tentang apa yang disampaikan, tetapi ditanggapi dengan acuh, ~ Mencari tahu maksud dari sipemarah & anda membalas dengan penuh rasa sakit hati.
Ingat :,,,, Sakit hati atau tetap memilih rasa nyaman di hati adalah tanggung jawab anda sendiri.
Kita sendirilah yang berhak memutuskan untuk sakit hati atau tidak (orang lain tidak punya Hak untuk mengendalikan kita).
Siapapun orangnya tidak akan mampu menyakiti hati anda, Jika anda tidak mengijinkan sendiri.
Kemudian,,,,, Anda bertanya kepada orang lain untuk menterjemahkan, tentang apa yang dikatakan orang yang sedang marah, Begitu tahu,,,,,, Saat itulah anda mulai sakit hati,,,
Sebenarnya,,,,, Anda punya 3 pilihan pada kondisi seperti itu : ~ Memilih untuk tidak peduli kepada si pemarah, sehingga tidak merasakan sakit hati. ~ Tetap berusaha mencari tahu tentang apa yang disampaikan, tetapi ditanggapi dengan acuh, ~ Mencari tahu maksud dari sipemarah & anda membalas dengan penuh rasa sakit hati.
Ingat :,,,, Sakit hati atau tetap memilih rasa nyaman di hati adalah tanggung jawab anda sendiri.
Kita sendirilah yang berhak memutuskan untuk sakit hati atau tidak (orang lain tidak punya Hak untuk mengendalikan kita).
Siapapun orangnya tidak akan mampu menyakiti hati anda, Jika anda tidak mengijinkan sendiri.
Pidato Wisudawan Terbaik, Memukau tetapi Sekaligus “Menakutkan”
Setiap
acara wisuda di kampus ITB selalu ada pidato sambutan dari salah
seorang wisudawan. Biasanya yang terpilih memberikan pidato sambutan
adalah pribadi yang unik, tetapi tidak
selalu yang mempunyai IPK terbaik. Sepanjang yang saya pernah ikuti, isi
pidatonya kebanyakan tidak terlalu istimewa, paling-paling isinya
kenangan memorabilia selama menimba ilmu di kampus ITB, kehidupan
mahasiswa selama kuliah, pesan-pesan, dan ucapan terima kasih kepada
dosen dan teman-teman civitas academica.
Namun, yang saya tulis dalam posting-an ini bukan pidato wisudawan ITB, tetapi wisudawan SMA di Amerika. Beberapa hari yang lalu saya menerima kiriman surel dari teman di milis dosen yang isinya cuplikan pidato Erica Goldson (siswi SMA) pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu. Isi pidatonya sangat menarik dan menurut saya sangat memukau. Namun, setelah saya membacanya, ada rasa keprihatinan yang muncul (nanti saya jelaskan).
“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.
Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.
Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.
Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?
Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”
Hmmm… setelah membaca pidato wisudawan terbaik tadi, apa kesan anda? Menurut saya pidatonya adalah sebuah ungkapan yang jujur, tetapi menurut saya kejujuran yang “menakutkan”. Menakutkan karena selama sekolah dia hanya mengejar nilai tinggi, tetapi dia meninggalkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya dalam bidang lain, seperti hobi, ketrampilan, soft skill, dan lain-lain. Akibatnya, setelah dia lulus dia merasa gamang, merasa takut terjun ke dunia nyata, yaitu masyarakat. Bahkan yang lebih mengenaskan lagi, dia sendiri tidak tahu apa yang dia inginkan di dalam hidup ini.
Saya sering menemukan mahasiswa yang hanya berkutat dengan urusan kuliah semata. Obsesinya adalah memperoleh nilai tinggi untuk semua mata kuliah. Dia tidak tertarik ikut kegiatan kemahasiswaan, baik di himpunan maupun di Unit Kegiatan Mahasiswa. Baginya hanya kuliah, kuliah, dan kuliah. Memang betul dia sangat rajin, selalu mengerjakan PR dan tugas dengan gemilang. Memang akhirnya IPK-nya tinggi, lulus cum-laude pula. Tidak ada yang salah dengan obsesinya mengejar nilai tinggi, sebab semua mahasiswa seharusnya seperti itu, yaitu mengejar nilai terbaik untuk setiap kuliah. Namun, untuk hidup di dunia nyata seorang mahasiswa tidak bisa hanya berbekal nilai kuliah, namun dia juga memerlukan ketrampilan hidup semacam soft skill yang hanya didapatkan dari pengembangan diri dalam bidang non-akademis.
Nah, kalau mahasiswa hanya berat dalam hard skill dan tidak membekali dirinya dengan ketrampilan hidup, bagaimana nanti dia siap menghadapi kehidupan dunia nyata yang memerlukan ketrampilan berkomunikasi, berdiplomasi, hubungan antar personal, dan lain-lain. Menurut saya, ini pulalah yang menjadi kelemahan alumni ITB yang disatu sisi sangat percaya diri dengan keahliannya, namun lemah dalam hubungan antar personal. Itulah makanya saya sering menyemangati dan menyuruh mahasiswa saya ikut kegiatan di Himpunan mahasiswa dan di Unit-Unit Kegiatan, agar mereka tidak menjadi orang yang kaku, namun menjadi orang yang menyenangkan dan disukai oleh lingkungan tempatnya bekerja dan bertempat tinggal. Orang yang terbaik belum tentu menjadi orang tersukses, sukses dalam hidup itu hal yang lain lagi.
Menurut saya, apa yang dirasakan wisudawan terbaik Amerika itu juga merupakan gambaran sistem pendidikan dasar di negara kita. Anak didik hanya ditargetkan mencapai nilai tinggi dalam pelajaran, karena itu sistem kejar nilai tinggi selalu ditekankan oleh guru-guru dan sekolah. Jangan heran lembaga Bimbel tumbuh subur karena murid dan orangtua membutuhkannya agar anak-anak mereka menjadi juara dan terbaik di sekolahnya. Belajar hanya untuk mengejar nilai semata, sementara kreativitas dan soft skill yang penting untuk bekal kehidupan terabaikan. Sistem pendidikan seperti ini membuat anak didik tumbuh menjadi anak “penurut” ketimbang anak kreatif.
Baiklah, pada bagian akhir tulisan ini saya kutipkan teks asli (dalam Bahasa Inggris) Erica Goldson di atas agar kita memahami pidato lengkapnya. Teks asli pidatonya dapat ditemukan di dalam laman web ini: http://archive.lewrockwell.com/pr/valedictorian-against-schooling.html
Untuk melihat link video youtubenya -> http://www.youtube.com/watch?v=9M4tdMsg3ts
Namun, yang saya tulis dalam posting-an ini bukan pidato wisudawan ITB, tetapi wisudawan SMA di Amerika. Beberapa hari yang lalu saya menerima kiriman surel dari teman di milis dosen yang isinya cuplikan pidato Erica Goldson (siswi SMA) pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu. Isi pidatonya sangat menarik dan menurut saya sangat memukau. Namun, setelah saya membacanya, ada rasa keprihatinan yang muncul (nanti saya jelaskan).
“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.
Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.
Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.
Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?
Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”
Hmmm… setelah membaca pidato wisudawan terbaik tadi, apa kesan anda? Menurut saya pidatonya adalah sebuah ungkapan yang jujur, tetapi menurut saya kejujuran yang “menakutkan”. Menakutkan karena selama sekolah dia hanya mengejar nilai tinggi, tetapi dia meninggalkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya dalam bidang lain, seperti hobi, ketrampilan, soft skill, dan lain-lain. Akibatnya, setelah dia lulus dia merasa gamang, merasa takut terjun ke dunia nyata, yaitu masyarakat. Bahkan yang lebih mengenaskan lagi, dia sendiri tidak tahu apa yang dia inginkan di dalam hidup ini.
Saya sering menemukan mahasiswa yang hanya berkutat dengan urusan kuliah semata. Obsesinya adalah memperoleh nilai tinggi untuk semua mata kuliah. Dia tidak tertarik ikut kegiatan kemahasiswaan, baik di himpunan maupun di Unit Kegiatan Mahasiswa. Baginya hanya kuliah, kuliah, dan kuliah. Memang betul dia sangat rajin, selalu mengerjakan PR dan tugas dengan gemilang. Memang akhirnya IPK-nya tinggi, lulus cum-laude pula. Tidak ada yang salah dengan obsesinya mengejar nilai tinggi, sebab semua mahasiswa seharusnya seperti itu, yaitu mengejar nilai terbaik untuk setiap kuliah. Namun, untuk hidup di dunia nyata seorang mahasiswa tidak bisa hanya berbekal nilai kuliah, namun dia juga memerlukan ketrampilan hidup semacam soft skill yang hanya didapatkan dari pengembangan diri dalam bidang non-akademis.
Nah, kalau mahasiswa hanya berat dalam hard skill dan tidak membekali dirinya dengan ketrampilan hidup, bagaimana nanti dia siap menghadapi kehidupan dunia nyata yang memerlukan ketrampilan berkomunikasi, berdiplomasi, hubungan antar personal, dan lain-lain. Menurut saya, ini pulalah yang menjadi kelemahan alumni ITB yang disatu sisi sangat percaya diri dengan keahliannya, namun lemah dalam hubungan antar personal. Itulah makanya saya sering menyemangati dan menyuruh mahasiswa saya ikut kegiatan di Himpunan mahasiswa dan di Unit-Unit Kegiatan, agar mereka tidak menjadi orang yang kaku, namun menjadi orang yang menyenangkan dan disukai oleh lingkungan tempatnya bekerja dan bertempat tinggal. Orang yang terbaik belum tentu menjadi orang tersukses, sukses dalam hidup itu hal yang lain lagi.
Menurut saya, apa yang dirasakan wisudawan terbaik Amerika itu juga merupakan gambaran sistem pendidikan dasar di negara kita. Anak didik hanya ditargetkan mencapai nilai tinggi dalam pelajaran, karena itu sistem kejar nilai tinggi selalu ditekankan oleh guru-guru dan sekolah. Jangan heran lembaga Bimbel tumbuh subur karena murid dan orangtua membutuhkannya agar anak-anak mereka menjadi juara dan terbaik di sekolahnya. Belajar hanya untuk mengejar nilai semata, sementara kreativitas dan soft skill yang penting untuk bekal kehidupan terabaikan. Sistem pendidikan seperti ini membuat anak didik tumbuh menjadi anak “penurut” ketimbang anak kreatif.
Baiklah, pada bagian akhir tulisan ini saya kutipkan teks asli (dalam Bahasa Inggris) Erica Goldson di atas agar kita memahami pidato lengkapnya. Teks asli pidatonya dapat ditemukan di dalam laman web ini: http://archive.lewrockwell.com/pr/valedictorian-against-schooling.html
Untuk melihat link video youtubenya -> http://www.youtube.com/watch?v=9M4tdMsg3ts
"Hikmah dari Memberikan Pelayanan Terbaik" (Bagus Banget, Dibaca Yah)
Di Victoria British Columbia, ada satu SPBU milik pebisnis sekaligus motivator bernama Dunsmuir.
Meski hanya SPBU, tapi SPBU ini sangat terkenal dan maju. Sebagian besar SPBU di AS adalah self service, tetapi di SPBU milik Dunsmuir, ada 4 orang pekerja yang melayani setiap mobil yang datang.
Pekerja 1 membukakan pintu dan mempersilakan penumpangnya keluar, kemudian memakai penyedot debu untuk membersihkan bangku dan interior mobil.
Pekerja 2 membuka kap mobil untuk mengecek olinya.
Pekerja 3 mengisi tangki bahan bakar sambil membersihkan semua kaca jendela mobil.
Pekerja 4 mengecek ban mobil. Semua dilakukan dengan ramah dan bersahabat.
Kebanyakan pekerja itu adalah anak2 muda. Menjadi petugas pompa bensin tentu bukan profesi idaman karena bukan pekerjaan bergaji tinggi.
Namun Mr. Dunsmuir selalu menekankan bahwa sangat mungkin pengemudi mobil yang mereka layani adalah calon bos mereka.
Artinya, jika mereka melayani dengan baik dan bersemangat, itu akan menjadi promosi yang baik. Faktanya memang demikian, banyak dari pekerja SPBU itu kemudian direkrut oleh para bos yang terkesan dengan etos kerja mereka.
Hal itupun memotivasi para pekerja untuk selalu melayani dengan prima, dan SPBU itu seolah menjadi batu loncatan dan "kampus" kehidupan mereka.
Tak heran, SPBU itu selalu kebanjiran pelamar. Dan reputasi SPBU dengan pelayanan istimewa itu juga membuatnya selalu laris.
Yang tak kalah menarik, para mantan pegawai Mr. Dunsmuir juga kemudian selalu mengisi bahan bakar di situ.
Kunci suksesnya adalah EXCELLENT SERVICE dan MOTIVASI YANG MENYALA.
Sahabatku, hal itu juga berlaku bagi setiap kita.
Walaupun pekerjaan yang kita kerjakan saat ini bukan pekerjaan Impian kita, tapi jika itu kita lakukan dengan sebaik-baiknya & yang terutama adalah dengan KASIH, itu akan membawa kita ke PROMOSI yang sesungguhnya !!
Anda tidak akan pernah rugi jika memberi pelayanan terbaik!
Menolong orang lain berarti menolong diri sendiri
Meski hanya SPBU, tapi SPBU ini sangat terkenal dan maju. Sebagian besar SPBU di AS adalah self service, tetapi di SPBU milik Dunsmuir, ada 4 orang pekerja yang melayani setiap mobil yang datang.
Pekerja 1 membukakan pintu dan mempersilakan penumpangnya keluar, kemudian memakai penyedot debu untuk membersihkan bangku dan interior mobil.
Pekerja 2 membuka kap mobil untuk mengecek olinya.
Pekerja 3 mengisi tangki bahan bakar sambil membersihkan semua kaca jendela mobil.
Pekerja 4 mengecek ban mobil. Semua dilakukan dengan ramah dan bersahabat.
Kebanyakan pekerja itu adalah anak2 muda. Menjadi petugas pompa bensin tentu bukan profesi idaman karena bukan pekerjaan bergaji tinggi.
Namun Mr. Dunsmuir selalu menekankan bahwa sangat mungkin pengemudi mobil yang mereka layani adalah calon bos mereka.
Artinya, jika mereka melayani dengan baik dan bersemangat, itu akan menjadi promosi yang baik. Faktanya memang demikian, banyak dari pekerja SPBU itu kemudian direkrut oleh para bos yang terkesan dengan etos kerja mereka.
Hal itupun memotivasi para pekerja untuk selalu melayani dengan prima, dan SPBU itu seolah menjadi batu loncatan dan "kampus" kehidupan mereka.
Tak heran, SPBU itu selalu kebanjiran pelamar. Dan reputasi SPBU dengan pelayanan istimewa itu juga membuatnya selalu laris.
Yang tak kalah menarik, para mantan pegawai Mr. Dunsmuir juga kemudian selalu mengisi bahan bakar di situ.
Kunci suksesnya adalah EXCELLENT SERVICE dan MOTIVASI YANG MENYALA.
Sahabatku, hal itu juga berlaku bagi setiap kita.
Walaupun pekerjaan yang kita kerjakan saat ini bukan pekerjaan Impian kita, tapi jika itu kita lakukan dengan sebaik-baiknya & yang terutama adalah dengan KASIH, itu akan membawa kita ke PROMOSI yang sesungguhnya !!
Anda tidak akan pernah rugi jika memberi pelayanan terbaik!
Menolong orang lain berarti menolong diri sendiri
Thursday, November 28, 2013
DAPATKAH KITA MELAKUKANNYA?
Ada SUARA yang tidak terdengar oleh telinga, itulah SUARA HATI.
Ada BENTUK yang tidak terlihat oleh mata, itulah PIKIRAN.
Ada AROMA yang tidak tercium oleh hidung, itulah KEBAJIKAN.
Ada RASA yang tidak terkecap oleh lidah, itulah KETULUSAN.
Ada SENTUHAN yang tidak teraba oleh kulit, itulah KASIH SAYANG.
Ada KONDISI BATIN yang tidak terpikir oleh pikiran, itulah KESADARAN.
Orang yang KUAT adalah:
- Orang yang DAPAT BERSERAH saat kekuatiran datang;•
- Orang yang DAPAT MENGENDALIKAN DIRI saat amarah menyerang;•
- Orang yang DAPAT BERSYUKUR di saat kekecewaan tak kunjung reda;•
- Orang yang DAPAT TERSENYUM pada saat terluka.•
- Orang yang DAPAT BANGKIT saat terjatuh.
Jika dalam hidup ini kita selalu:
• Memancarkan CINTA KASIH, maka kita akan diSAYANGI.
• BERMURAH HATI, maka kita pun akan MURAH REJEKI.
• BERWELAS ASIH, maka di manapun kita akan TERLINDUNGI.
• JUJUR, maka kita akan menjadi org yg DIPERCAYA.
• RENDAH HATI, maka kita akan menjadi org yg DISEGANI.
• SEMANGAT, maka kita akan selalu MENGINSPIRASI.
• BIJAKSANA, maka kita akan banyak meraih SIMPATI
☞ Hidup ini singkat, jangan digunakan untuk berdebat, lebih baik jaga martabat agar hidup menjadi berkat.
Wednesday, November 27, 2013
Be Grateful ♥
I just wanna thanks God for everything i have. i'm so grateful for this beautiful life. i know i'm not a good person. i seldom go to church, sometimes i forgot to pray but still, i'm so grateful and proud to be a Christian and having Jesus as my God.
Even i can't see Him, i know He's always here with me, beside me, everytime, everywhere. He always cheer me up when i'm down, always help me when He know i can't face my problems anymore.
why i wrote about this? well, I've been so frustrated this past few days. i have my own family problem which i can't tell everyone, even my besties. i just feel like i'm so doomed. i don't know what to do anymore. it's my family problem, and i can't discuss this with my Mom, cause i know, she's already stressed with this and i don't wanna adds the load to her anymore.
I feel so confused. my family problem, my college, my work, everything! i felt like the problem comes to me all at once. i don't know what i should do, till i remember a video about God, i watched it last month and honestly, i'm touched. really really touched.
This is the video, feel free to watch :
http://www.godtube.com/watch/?v=0FBFCFNU
i do realize that God always be with me all the time, beside me, everytime, no matter what happen. Then i start to pray, i tell God everything i face about, my family problem, my financial problem, my college problem, what i worry about, everything. after that, well, i still feel depressed but not like before. i feel relieve a little after i told God what i feel. The feeling you get when you have someone to talk to.
Few days later, God shows me His miracle, someone called me and told me that i don't need to worried about my financial anymore and stay focused on college cause she will be my sponsor. oh My God!!! can you imagine how happy i am? i don't need to burden my parents anymore. that's sponsor really relieved me from all my problems, like family problem and college problem.
I do believe God also intervened. this is His way to help me and to told me that he's always with me and He'll help me everytime i need Him. It's His way to told me to not be afraid and keep strong to face my problems cause He will never ever leave me alone.
Also, God always give me what i want, it may not all at once, but yet, it is. He give me older brothers which i always want because i'm the first born child in my family, also the first born grandchild on both side family.
Last but not least, i just wanna thanks God for everything i have, for every miracle that happen to me and my family. i'm so grateful to having Him as my Savior and My God. Thank you for always being with me, beside me, comfort me and helping me facing all my problems. I LOVE YOU GOD ♥
Don't Judge People By Their Religion
First, i want to say that i'm not a religious person. I am Christian, but i don't go to church everyweek, sometimes i went to club and have fun. i drunk and i hangover. but still, i trust in The Lord, i still pray to him everyday i wake up and when i wanna go to sleep.
I always have Obelus with me wherever i go. that's enough to prove that I'm a Christian. but again, don't judge me because i went to club and get drunk, when i didn't go to church on Sunday, or etc. just because i do that thing, doesn't mean its forbidden for me to go to church. why not?
You can't judge people because of their RELIGION. just because i'm a Christian, doesn't mean i must go to church everyweek and don't try to force me to go to church everyweek. that's frustrating.
FYI, i don't care what your religion is, as long as you are respect and doing good to me, then it's ok. I believe there's no religion that teach their people bad thing, they always teach the good one. it just the people who do bad things on their own. not their religion.
Sunday, November 10, 2013
Wednesday, November 6, 2013
"Memahami Orang Tua Kita yang sudah Menua"
Banyak anak muda yang merasa cukup terganggu dengan ayah/ibu yang sudah usia lanjut dan cerewet, suka ngomel, banyak bicara dll.
Namun tahukah Anda bahwa sebenarnya dengan cerewet, suka cerita, ngomel, dll, ini sebenarnya bentuk verbal catharsis, yaitu orangtua mengeluarkan unek-uneknya sehingga setelahnya hatinya akan menjadi lega dan nyaman.
Selama orangtua masih mau bicara, mengeluarkan pikiran dan terutama perasaannya dalam bentuk verbal, ini tentu sangat bagus, daripada mereka hanya diam saja. Semakin mereka diam, tidak ada komunikasi, maka akan semakin tidak baik bagi diri mereka.
Sebagai anak kita perlu bijak memahami kondisi dan situasi orangtua kita. Seorang rekan dokter yang sedang dalam proses sertifikasi hipnoterapis berkata, "Walau saya bisa hipnoterapi, saya tidak akan mensugesti ibu saya agar tenang dan tidak cerewet lagi. Memang Ibu saya ini cewewetnya minta ampun. Namun, justru inilah yang membuat Beliau bisa selalu sehat dan panjang umur. Saat ini Beliau berusia 92 tahun."
Saat kecil, kita cerewetnya minta ampun. Kita bicara hal-hal yang tidak penting, suka mengulang-ulang apa yang sudah dikatakan atau ditanyakan. Namun, karena saat itu kita masih kecil, masih baru belajar bicara, cerewetnya kita dianggap lucu dan menyenangkan. Saat seseorang menjadi tua, suka atau tidak suka ia akan kembali seperti anak kecil. Namun, karena sekarang tubuhnya sudah tua, renta, dan keriput, cerewetnya tidak lagi lucu dan menggemaskan, malah terkesan menjengkelkan.
Sayangilah orangtua apa adanya, dengan segala keluguan dan kekurangan mereka, selama mereka masih ada bersama kita. Suatu saat nanti, saat suara mereka sudah tidak lagi terdengar, kita pasti akan kangen dan merasa kehilangan.
Ingat, nanti kita juga akan menjadi tua, renta, keriput, dan cerewet seperti orangtua kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)









