Monday, March 30, 2015

A Letter To My Indonesia

If you can read this article in English and understand it without any problem, chances are you’ve got a good education, good enough to communicate in a foreign language, or you’re open-minded, open-minded enough to know that being able to speak English doesn’t make you less patriotic.

In fact, this whole article is about patriotism. Yes, Indonesia. I’m looking at you. Sharply. And the smart people of Indonesia, you too. I want to say this: We failed our country, didn’t we?

I was pretty hopeful to see the new Indonesia, since we have our new president and a new set of parliaments. But Indonesia is the same, even backward. I know there are many people, just like me, put their hopes up along with the new Jokowi administration. I also understand change doesn’t happen over night. But looking at the situation in my country, I wondered if change ever going to happen. Nothing’s wrong with the new elected President. He’s a man of integrity and very down-to-earth. But putting him in a society who refused to change is like putting world’s best driver in a broken car: it doesn’t matter. It’s not going to work.

I feel so saddened. I feel frustrated. Our society, our people, my people, your people, we don’t understand even the very basic rules: You put the trash in a trashcan. If you can’t find a trashcan, it’s not going to hurt you to carry your trash until you find one. You follow the way the traffic goes, you don’t drive your motorbike in the opposite direction when everyone goes one way. You don’t drive your motorbike at the sidewalk – that’s not for motorbikes, but I’m sure it’s very hard to understand. It’s rocket science. And if you got killed in an accident as a result of your moronic act, at least we finally come to understand that stupidity literally kills. Although in some place there is no written rule, you don’t smoke in a public restaurant or in a public space: there are babies, kids, and pregnant women there. Walking a little bit further from a public space to smoke is better than having everyone inhales your selfishness. You form a line by going to the back of a person in front of you or if you happen to be the first person there, stand in the line behind the counter. No, you don’t form a line by standing on the left or right of the first person, that will only create anger since it’s never clear who gets there earlier than who. And no, being an hour late is not funny anymore. It’s pathetic.

I see too many Indonesians don’t understand (or understand but refuse to do) those basic rules, and yet we dream of a new Indonesia: a free-corruption country. Tell me how do we stop corruption at a national level when we can’t even stop ourselves from smoking in front of kids? How do we stop corruption when we can’t even stop throwing trash out the street from the windows of our expensive cars? How do we stop corruption when we can’t even stop people who drive the opposite way? There is a reason why Indonesia is called a developing country: because our character is still being developed. We can put someone as honest as Mahatma Gandhi to be the president of Indonesia, but if we keep our character the way it is right now, not even Gandhi can make a change. Indonesia, I say this out of love. Let’s not fool ourselves. We’re a broken car.

We boast ourselves as a religious country, a country that believe in God and acknowledge the existence of different religions. We’re really committed in doing our religions rules: if you’re Islam, you’d be busy praying 5 times a day and suggesting the usage of hijab to the females. If you’re Christian, you’d be busy deciding which fancy church you can go to and check-in on Facebook, and even busier deciding which music the church should have on. Now tell me, if our religion is so great, why doesn’t it reflect in the country’s condition? If we pray to God as hard as 5 times a day, why the kindness of the God we worship does not illuminate the country? What do we do wrong here, my Indonesia? How do we go wrong?

I remember a tweet written by Rizki Ridyasmara, the author of The Jacatra Secret. He tweeted, “Indonesia needs a dictator who means well for the country.” If we can’t go soft anymore, let’s go hard. Let’s put on ourselves a punishment, a fine, or a jail time if we break the rules. Let’s say it’s wrong when it’s wrong and it’s right when it’s right. Justice should serve any religion at any status. For a sensitive example, if a Batak Christian got caught stealing, I, myself, as a Batak Christian should say it is wrong.

We say we refuse any kind of western influence because it’s not aligned with our values. I tell you what. People in the western side of the world, they don’t need a rule to line up. They don’t need a punishment so that they would throw their trash in a trashcan. And they don’t smoke in public, with or without a sign telling them to do so. As much as you hate to hear this, maybe, just maybe, we do need western influence. If their society understands the basic rules as if it is installed in them, maybe, just maybe, there are one or two values we can learn from.

And if you still understand the content of this article up to this point, my friend, it has been our responsibility to educate the country. So far we fail. But as long as there’s still tomorrow, there is still hope, and I’ll keep trying through the articles that I write here or at Take your part. Education is one way to help our people from this mentality for education is the most powerful weapon to change ourselves, the most powerful weapon to change your family, the most powerful weapon to change the society, the most powerful weapon to change Indonesia.

Now let’s hope that our people actually want to be helped.

I’ll say a prayer for us tonight, Indonesia. God bless.

source :

PS : i'm an Indonesian and this whole article is right and also i copied every single word of it from Kitty Sitompul. thank you for writing this article and i hope this can open our eyes towards our country.

Tuesday, March 24, 2015

Cinderella Movie 2015

so, i just watched Cinderella movie on cinema and trust me, i like it so much. although there are some stories that they add in. but, trust me, you won't regret it. i love how they make Cinderella stories to real life, not just an animation. and gosh, that glass slipper!!! absolutely amazing. also some quotes i learn from the movie


Wednesday, March 18, 2015

"Belajar dari cara Singapura memperlakukan agama"

Sekitar 22 tahun silam Singapura melarang pengajaran agama di sekolah-sekolah. Hasilnya, penduduk negara itu paling tertib, disiplin, dan paling toleran antar sesama warga, walau terdiri dari banyak suku bangsa, bahasa, dan agama. Inilah sebabnya maka Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong menegaskan bahwa pemerintahnya tidak akan mengijinkan pengajaran agama dimasukkan kembali ke dalam kurikulum sekolah.

PM Lee menegaskan bahwa 22 tahun silam, pemerintah di bawah kepemimpinan ayahnya—Lee Kuan Yew—sudah menetapkan bahwa agama adalah urusan pribadi dan bukan urusan sekolah. Keputusan ini diambil karena PM Lee Kuan Yew saat itu melihat bahwa pengajaran agama yang dilakukan di sekolah-sekolah telah menyebabkan penduduk semakin tercerai-berai dan bukan semakin bersatu membangun negeri pulau itu.

PM Lee Hsien Loong menegaskan kembali sikap ayahnya terhadap pengajaran agama ketika ia tiba-tiba ditanyai tentang sikap pemerintahnya terhadap pengajaran agama di sekolah. Pertanyaan itu datang dari seorang mahasiswa jurusan Teknik Lingkungan asal Sri Lanka. Ia meminta PM Lee menjelaskan tentang kabar bahwa Singapura akan mengubah sikap terhadap pengajaran agama di sekolah. Terhadap pertanyaan itu, PM Lee menjawab, “Kami telah menetapkan bahwa Singapura adalah sebuah negara sekuler, karena itu maka agama merupakan suatu hal yang sebaiknya dibiarkan berada dalam kawasan pribadi.

Surat kabar Straits Times melaporkan bahwa dalam penjelasan yang disampaikan sebagai bagian dari rangkaian peringatan hari nasional negara tersebut, PM Lee sangat berhati-hati memilih kata-kata yang tepat untuk mempertahankan keseimbangan dan persatuan di negara yang multietnis dan multiagama itu. Ia berpendapat bahwa karena di Singapura ada banyak agama, maka urusan agama ditempatkan dalam kawasan pribadi masing-masing warga negara, sementara pemerintah bertugas menjaga keseimbangan melalui perangkat hukum yang tegas.

Pelajaran agama dimasukkan dalam kurikulum sekolah di Singapura pada 1984 dan waktu itu setiap siswa diberi kebebasan untuk memilih satu dari pelajaran agama yang tersedia—yaitu Buddha, Islam, dan Kristen. Lima tahun kemudian, pemerintah Singapura mencabut semua pelajaran agama tersebut dari kurikulum karena terbukti bahwa pelajaran tersebut membuat para siswa semakin terpisah satu dengan lainnya. Ada guru yang mengajari siswa untuk mengikuti agama tertentu sehingga terjadi ketegangan di sekolah.

Sejak saat itu, pemerintah melarang pendidikan agama di sekolah-sekolah. PM Lee berpendapat bahwa melarang pelajaran agama di sekolah tidak akan menghambat penduduk Singapura untuk menjalankan agamanya masing-masing. Sikap ini terbukti benar. Singapura tidak lantas menjadi negara yang berpenduduk “kafir”. Sebaliknya, Singapura kini dikenal sebagai negara yang memiliki integritas tinggi di berbagai lini pergaulan antarbangsa.

Dalam hal kualitas dan integritas, lulusan perguruan tinggi Singapura bisa diacungi jempol. Dalam hal tatakelola pemerintahan, Singapura adalah negara paling bersih dan akuntabel di peringkat dunia. Dalam hal penegakan hukum, Singapura juga bisa dijadikan teladan karena hukumnya jelas dan konsistentidak tebang pilih. Hukum di Singapura tidak ambiguous. Karena pemerintah menetapkan Singapura sebagai negara bebas asap rokok, maka setiap bungkus rokok yang semuanya komoditas impor itu diberi gambar-gambar yang mengerikan agar perokok menghindarinya.

Kesehatan penduduk lebih penting daripada cukai rokok! Rakyat yang mati karena merokok lebih berharga dari cukai yang masuk ke kantong pemerintah. Itu sebabnya di setiap bungkus rokok ada gambar gusi berdarah-darah, paru-paru hancur, jantung terbakar, mulut terbalut kanker, dan banyak gambar lain yang amat mengerikan dan menjijikkan. Bahkan di kalangan terpelajar, perokok dianggap sebagai manusia yang “kurang beradab” alias rendah derajatnya. Siapa pun yang membuang puntung rokok sembarangan di jalan raya pasti dihukum.

Negara yang secara tegas melarang pengajaran agama di sekolahnya itu telah berhasil mempraktekkan nilainilai agama dalam kehidupan nyata, menjaga kesehatan sebagai pemberian dari Tuhan Sang Pencipta, serta menjaga keharmonisan hidup bernegara walau terdiri dari banyak suku bangsa dan agama. Padahal PM Lee secara amat tegas katakan bahwa “Pemerintah tak boleh masuk ke kawasan agama dan agama tak boleh masuk ke kawasan Pemerintah”.

Bagaimana dengan Indonesia?

Inilah satu-satunya negara di muka bumi yang memiliki Pancasila dengan “Ketuhanan yang Maha Esa” sebagai sila pertama. Ribuan guru agama, ribuan lembaga keagamaan, ribuan sekolah berbasis agama, dan ribuan bahkan jutaan buku-buku tentang agama bertebaran di seantero negeri ini! Rumah-rumah ibadah kecil dan besar berada di seluruh pelosok negeri, acara dan ritual keagamaan tak henti-hentinya menghiasi kalender mingguan. Agama menjadi salah satu syarat mutlak yang dicantumkan dalam kartu tanda penduduk. Bahkan agama dijadikan daya tarik sejumlah partai politik—walau hal ini semakin tak laku dijual.

Menjelang 66 tahun merdeka, hasil apa yang dapat dipetik dari pengajaran agama di sekolah-sekolah Indonesia? Amat banyak hasil positif, tentunya. Tapi hasil negatif pun kian banyak dan memalukan. Korupsi, tipu daya, manipulasi, akal-akalan – atau apa pun namanya – merebak di di berbagai lembaga yang mestinya menjadi teladan dan simbol keberagamaan kita – mulai dari Kementerian Agama sampai Kementerian Pendidikan Nasional, kepolisian, kejaksaan, pengadilan negeri, Mahkamah Agung, bahkan – ini yang paling parah – DPR yang merupakan lembaga terhormat itu dinyatakan sebagai lembaga terkorup di Indonesia!

Survey Kemitraan memperlihatkan lembaga legislatif menempati urutan nomor satu sebagai lembaga terkorup dibandingkan lembaga yudikatif dan eksekutif. Hasil survey yang diberitakan Metro TV tersebut menjelaskan bahwa korupsi legislatif sebesar 78%, eksekutif 32% dan yudikatif 70%. Survey 2010 ini dilakukan di 27 propinsi di Indonesia. Target responden adalah anggota parlemen, masyarakat, kalangan pemerintahan, akademisi, dan media massa.

“Yang kami survey bukan orang sembarangan tapi orang-orang yang memang tahu dan paham soal instansi yang disurvey,” ujar spesialis pendidikan dan pelatihan Proyek Pengendalian Korupsi Indonesia, Laode Syarif.



Ada seseorang yg tinggal di lereng gunung, hidup bertani dgn sangat menikmati kebahagiaan & ketenangan di dalam hidupnya.

Petani tsb mempunyai dua kantong.Pada kantong yang satu terdapat lubang, tapi pada kantong yg lainnya tidak ada lubang.

Segala sesuatu yg menyakitkan yg pernah di dengarnya seperti makian & sindiran, di tulisnya di sebuah kertas, di gulung kecil, kemudian di masukkannya ke dalam kantong yg berlubang.
Tetapi semua yg indah, benar & bermanfaat, di tulisnya di sebuah kertas, kemudian di masukkannya ke dalam kantong yg tidak ada lubangnya.

Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yg ada di dalam saku yg tidak berlubang, membacanya & menikmati hal² indah yg sudah di perolehnya sepanjang hari itu.

Kemudian ia merogoh kantong yg ada lubangnya, tapi ia tidak menemukan apapun.

Maka ia pun tertawa & tetap bersukacita, karena tak ada sesuatu yg dapat merusak hati & jiwanya.

Itulah yg seharusnya kita lakukan, Menyimpan semua yg baik di “kantong yg tidak berlubang”, sehingga tidak satupun yg baik yg hilang dari hidup kita.

Sebaliknya, simpanlah semua yg buruk di “kantong yg berlubang”,
maka yg buruk itu akan jatuh & tidak perlu kita ingat lagi.

Namun sayang sekali masih banyak orang yg melakukan dg terbalik.

Mereka menyimpan semua yg baik di “kantong yg berlubang” & apa yg tidak baik di “kantong yg tidak berlubang”(alias memelihara pikiran² jahat & segala sesuatu yg menyakitkan hati). Maka jiwanya menjadi tertekan & tidak ada gairah dalam menjalani hidup.

Karena itu,agar bisa menikmati kehidupan yang BAHAGIA & TENANG:

Mari mencoba menyimpan hanya yg baik & bermanfaat, Niatkan MENABUNG KEBAIKAN di kantong kehidupan yg penuh keindahan ini.

I Cry When I Watch This. But, It's So Worth It. Take The Lesson :)

This One Is Worth Our Time

Little Groot!!!! ❤❤❤

"Jangan Pernah Berhenti Berbuat Baik Kepada Siapapun" (True Story)

 Suatu malam di suatu kota di Philadelphia - USA, sepasang suami istri yg sudah tua masuk ke sebuah hotel kecil & mereka bertanya kepada seorang resepsionis,

Suami : apakah masih ada kamar untuk kami berdua.

Resepsionis : maaf sekali Pak, kamar kami penuh semua & kebetulan di kota ini sedang ada 3 events besar sehingga semua hotel penuh.

Suami : ooohhh, baik-lah kalau begitu.

Resepsionis : tetapi saya tidak mungkin menolak Bapak & Ibu serta menyuruh pergi di tengah malam begini sementara di luar hujan badai. kalau berkenan, bapak & ibu boleh menginap di kamar saya, segera saya akan membereskan kamar saya.

Suami & istri : (mengangguk tanda setuju) Terima kasih anak muda.

2 tahun berlalu & resepsionis hampir melupakan kejadian itu ketika menerima surat yang mengingatkan-nya pada malam hujan badai tersebut. Lelaki muda ini di minta datang mengunjungi pasangan tersebut di New York & terlampir tiket pesawat pulang pergi untuknya.

Di New York, laki-laki tua itu membawa-nya ke sudut 5th Avenue & 34th Street lalu menunjuk sebuah gedung baru yang megah, sebuah istana dengan batu kemerahan dengan menara yang menjulang ke langit.

Lelaki tua : itu adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk Anda kelola.

Resepsionis : ha...ha...ha... Anda pasti sedang bercanda.

Lelaki tua : Sure, saya tidak sedang bergurau.

Nama lelaki tua itu adalah Mr. William Waldorf Astor & struktur bangunan megah tersebut adalah Waldorf Astoria Hotel.

Resepsionis itu, adalah Mr. George C. Boldt yg akhir-nya menjadi CEO dari jaringan Waldorf-Astoria Hotel yang kini berdiri di hampir seluruh kota-kota besar di seluruh dunia.

Moral cerita:
Jangan pernah berhenti untuk berbuat baik kepada siapa-pun, kapan-pun & dimana-pun


Bob Butera, mantan Presiden dari Tim Hockey, New Jersey Devils Memaparkan Rahasia Kemenangan Timnya kpd seorang Wartawan yg Mewawancarainya, katanya, "Yg Membedakan Pemenang dgn Pecundang adalah bahwa Pemenang itu Berkonsentrasi dgn Apa yg Dapat diperbuatnya, bukan pada Apa yg Tidak Dapat diperbuatnya.."

"Jika seseorang adalah Pencetak Gol yg Hebat namun bukan Pemain Skate yg Baik, kami suruh dia Hanya Memikirkan Golnya saja, Jgn pernah Memikirkan org lain yg Lebih Pandai Main Skate darinya..."

Inilah yg perlu kita Perhatikan..

Banyak org Terlalu Sibuk Mengembangkan dirinya dgn berbagai Hal, tetapi pada Kenyataannya Tidak juga Mencapai Kemajuan yg Berarti....

Kemampuan, Bakat dan Talenta memang Harus dikembangkan, terlebih jika hal itu Menyangkut Karakter kita.

Kita harus mengatasi kelemahan. Tetapi jika hal itu bukanlah soal karakter, maka satu2nya hal utk menjadikan apa yg kita miliki sebagai batu loncatan utk berhasil, maka harus memfokuskan diri kita pada kelebihan yg kita miliki.

Memperbaiki kekurangan itu memang Harus, tetapi Memusatkan Perhatian pada Apa yg menjadi Kelebihan kita, akan memungkinkan kita Lebih Cepat Meraih Sukses.

Sukses bukanlah Soal ada Tidaknya Talenta, namun bagaimana kita Mengembangkan Talenta yg ada dalam diri kita itu utk menjadi sesuatu yg bermanfaat & LUAR BIASA.

~Bob Butera

Have a GREAT day my friends

Sunday, March 15, 2015

== Jangan Dibiasakan ==

 Kita akan menjadi apa yang Kita suka lakukan.

Jika Kita suka marah, Kita akan selalu marah dan akhirnya jadilah pemarah.

Jika Kita suka curiga, Kita akan selalu curiga dan akhirnya jadilah pencuriga.

Jika Kita suka gosip, Kita akan selalu bergosip dan akhirnya jadilah penggosip.

Jika Kita suka bicara kasar, Kita akan selalu berbicara kasar dan akhirnya jadilah Kita orang kasar.

Jika Kita suka mementingkan diri sendiri, Kita akan selalu mementingkan diri sendiri dan akhirnya jadilah Kita orang yang sering egois.

Jika Kita suka pada hal yang memalukan, Kita akan selalu melakukannya dan akhirnya jadilah Kita orang yang tak punya rasa malu lagi.

Jika Kita suka melihat kejelekan orang, Kita akan selalu mencari kejelekan orang lain tanpa pernah melihat kebaikan dan kelebihannya dan akhirnya jadilah Kita orang yang penuh kejelekan.

Jika Kita suka mengeluh, Kita akan selalu mengeluh dan akhirnya jadilah Anda pecundang.

Jika Kita gila hormat, Kita akan selalu mencari hormat dan akhirnya jadilah Kita orang yang terhina.

Jika Kita suka omong kosong, Kita akan selalu omong kosong dan akhirnya jadilah Kita seorang yang tukang omong kosong.

Kita tidak dilahirkan menjadi siapa, Kebiasaanlah yang membuat Kita Menjadi Siapa.


Alkisah, ada seorang penebang kayu. Suatu hari dia kehilangan kapaknya, sehingga dia tidak bisa bekerja. Dia mencurigai tetangganya yg mencuri kapaknya.

Pagi itu ketika sang tetangga berangkat & menutupi peralatan kerjanya dg kain, rasanya kapaknya pasti disembunyikan disana, apalagi tetangga ini senyumnya terasa tidak tulus. Pasti dia pencurinya.

Besoknya, tetangganya bahkan terasa jadi ramah berlebihan karena biasanya jarang menyapa, kali ini menyempatkan berbasa-basi. Apalagi dilihat hasil tebangan kayunya dua hari ini banyak sekali, pasti dia menebang menggunakan kapak curiannya.
Semakin dipikir semakin yakin.

Pada hari ketiga baru disadari ternyata kapaknya tersimpan di laci dapur. Istrinya yg sedang keluar kota menyimpankan disana. Senang benar hatinya karena kapaknya dapat ditemukan kembali.
Dia amati lagi tetangganya yg lewat, dan dia merasa tetangga ini tidak berkelakuan seperti pencuri & senyumnya juga tulus2 saja. Bahkan percakapannya terasa sangat wajar dan jujur. Dia heran kenapa kemarin dia melihat tetangganya seperti pencuri?

Persepsi membentuk kenyataan, pikiran kita membentuk sudut pandang kita.
Apa yg kita yakini akan semakin terlihat oleh kita sebagai kenyataan.

Sebagai contoh, apapun yg dilakukan orang yg kita cintai adalah baik dan benar. Anak nakal dianggap lucu, kekasih pelit dianggap berhemat, orang cerewet dibilang perhatian, keras kepala dibilang berprinsip & makanan tidak enak dibilang bergizi.

Hidup tidak pernah & tidak ada yg adil, tidak ada benar salah, kita ciptakan sudut pandang kita sendiri. Kita menemukan apa yg kita ingin temukan.

Apa yg terlihat bukan kenyataan, kenyataan adalah siapa kita & bagaimana kita memandang semuanya itu. Pandangan kita berubah mengikuti perubahan jaman & keadaan.
Segalanya mengalir dalam dimensi ruang dan waktu.

Filsuf dan Pelaut.

Ada seorang filsuf yang menaiki sebuah perahu kecil ke suatu tempat. Karena merasa bosan dalam perahu, kemudian dia pun berdiskusi dengan pelaut.

Filsuf menanyakan kepada pelaut itu: ” Apakah Anda mengerti filosofi?”
“Tidak mengerti.” Jawab pelaut.
“Wahh, sayang sekali, Anda telah kehilangan setengah dari seluruh kehidupan Anda.

Apakah Anda mengerti matematika?” Filsuf tersebut bertanya lagi.
“Tidak mengerti juga.” Jawab pelaut tersebut.
Filsuf itu, menggelengkan kepalanya seraya berkata:
“Sayang sekali, bahkan Anda tidak mengerti akan matematika.
Berarti Anda telah kehilangan lagi setengah dari kehidupan Anda.”

Tiba-tiba ada ombak besar, membuat perahu tersebut terombang-ambing. Ada beberapa tempat telah kemasukan air,
Perahu tersebut akan tenggelam, filsuf tersebut ketakutan. Seketika, pelaut pun bertanya pada filsuf: ” Tuan, apakah Anda bisa berenang?”
Filsuf dengan cepat menggelengkan kepalanya dan berkata: “Saya tidak bisa, cepat tolonglah saya.”
Pelaut menertawakannya dan berkata: “Berenang Anda tidak bisa, apa arti dari kehidupan Anda? Berarti Anda akan kehilangan seluruh kehidupan Anda.”

Semua orang sebenarnya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Bangga atas prestasi itu wajar saja, tetapi jangan sampai membuat diri sendiri menjadi sombong maupun angkuh akan prestasi tersebut. Ingatlah, selalu ada yang lebih pintar dari kita. Dan kita juga masih perlu belajar dari kelebihan orang lain.

Quotes Part 3 ❤

Universitas Indonesia

I went to Universitas Indonesia (UI) last friday with my thesis group to find more journal for our thesis. and trust me, the university is so so so big. UI is one of the most wanted university in the world. and the test to get there is so difficult. mostly people who get to UI will work for government. also UI is well-known as the most famous university around JaBoDeTaBek (Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi)

to get there (in this case from my place), we can use the public transportation or TransJakarta and train. so, me and my friends use public transportation and we transit for about 2 times and then we use the train. oh and it's my first time riding the train and i'm so excited!!!!

here's my journey photo, enjoy 

Our Selfie on Train

Ticket to The Train (it's a card actually)

Inside the train (we sit on girl's)

Sticker to enter the UI library

UI library